New Journey

New journey will be started soon, I hope I and all the people that I love so much are gonna be just fine. I’ll be back next February (according to plan). Nobody now what the future looks like, hope everything turns alright. Take care, I’ll update if there were a chance.

No worries.

Til we meet again.

Advertisements

Quotes

Here’s to the crazy ones. The misfits. The rebels. The troublemakers. The round pegs in the square holes. The ones who see things differently. They’re not fond of rules. And they have no respect for the status quo. You can quote them, disagree with them, glorify or vilify them. About the only thing you can’t do is ignore them. Because they change things. They push the human race forward. And while some may see them as the crazy ones, we see genius. Because the people who are crazy enough to think they can change the world, are the ones who do.

– Steve Jobs.

Sisi Lain dari Informasi

Kini kita hidup di era informasi. Begitu cepat, begitu banyak, dan begitu volatile.

Waktu kuliah saya sempat membayangkan bagaimana mahasiswa-mahasiswa jaman pra internet mengerjakan tugasnya pasti lebih melelahkan untuk mencari sekedar referensi pun. Sekarang saya mulai berpikir, mungkin hidup di zaman itu tidaklah begitu buruk. Kini kita hidup dimana informasi datang tanpa kita minta. Dalam hitungan menit kita bisa melihat begitu banyak informasi di sosial media. Kita merasa dilibatkan dalam banyak irisan hidup orang-orang namun sebenarnya semu. Saya pikir istilah “sosial” dalam sosial media perlu kita renungkan kembali, karena kebanyakan tak ada sedikitpun faktor sosial atau berbagi dalam sosial media. Adakah faktor sosial terbersit ketika seseorang mengunggah makanan sewaktu ia makan siang tadi atau pakaian yang dikenakan hari ini atau jam berapa ia tidur dan bangun? Bila sosial media benar adanya untuk kepentingan sosial bukankah kita harusnya mengunggah foto buku-buku bekas yang kita ingin berikan misalnya atau hal-hal yang bermanfaat untuk orang ketahui. Tidak kah selama ini kita mengunggah sesuatu karena tanpa sadar kita adalah individu kesepian yang sekedar mencari perhatian atau pembuktian.

Saya sempat membaca artikel bagaimana rating dari sebuah restoran kian menurun dari tahun ke tahun. Pihak restoran yakin bahwa kualitas dari makanan dan pelayanan selalu terjaga. Usut punya usut, perilaku pelanggan sendiri lah yang menjadi biang keladi. Dengan kehadiran sosial media, setelah makanan dihidangkan di meja, para pelanggan tidak langsung menyantapnya selagi hangat tetapi mengambil foto dahulu yang terkadang memakan waktu hingga makanan dingin. Tak jarang, pelanggan meminta makanannya dihangatkan kembali. Selain itu, kebiasaan foto bersama pun kadang menghambat ruang gerak para pelayan.

Ada perbedaan besar antara sebuah ideologi dan keadaan aktual, antara sebuah Pancasila dan Segitiga Maslow. Dimana poin utama dari gagasan ideal yang dibuat manusia adalah nilai-nilai ketuhanan sedangkan apa yang sebenarnya manusia inginkan hanyalah aktualisasi diri. Era informasi ini sungguhlah memberi ruang gerak yang tak terbatas untuk pengejawantahan diri. Dimana kita bisa memilih identitas yang kita inginkan, berekspresi, dan berlindung di belakang profil tanpa wajah atau menjadi diri kita dengan tidak menjadi diri kita. Dimana sebuah kebersamaan dan momen indah tergantung dari cerkasnya lensa kamera atau sekedar untaian kata-kata indah pada kolom deskripsi. Hal inilah yang membuat referensi hidup kian banyak, dimana informasi-informasi sekitar tanpa kita sadari kita jadikan sebuah tolak ukur sosial tanpa kita tahu benar versi penuh dari tiap-tiap bagiannya.

Pada akhirnya, pilihan jatuh pada individu itu sendiri, apa yang ingin dibagi pada dunia dan apa yang ingin diterima dari dunia (via sosial media). Kita tak bisa membatasi aktualisasi diri seseorang, tapi untungnya kita masih bisa memilah dan memilih apa yang ingin kita ketahui benar di era informasi ini.