Korupsi

Korupsi itu berbahaya bukan hanya karena bisa dipenjara dan bikin malu keluarga. Meski jaman sekarang jarang ada keluarga yang malu gara-gara korupsi, kebanyakan lebih malu jadi keluarga PNS atau buruh pabrik padahal halal dan legal.

Sebagaimana jamak diketahui namun tidak dimaknai, korupsi ialah mencuri. Artinya merampas sesuatu yang bukan haknya. Bedanya dengan perbuatan mencuri biasa ialah perbuatan korupsi tidak terasa langsung dampaknya. Artinya korbannya, tidak merasa terampas haknya tetapi nilai rampasan dan efeknya jauh lebih besar. Pencuri sepeda atau kambing bisa dihakimi beramai-ramai karena dampak dari perbuatannya langsung terasa, tak ada segan sama sekali untuk melempar tinju karena sang pencuri tak terhormat dan tak tahu malu. Beda rasanya kalau dibandingkan dengan koruptor, kejahatannya tak terasa, proses hukumnya alot, pengacaranya pun ternama. Mana berani kita yang rakyat jelata mengadili sang banyak harta. Ini salah kita juga, masyarakat sering menganggap strata sosial acuannya hanya harta mau orang baik-baik atau penjahat, kalau kaya ya sudah berarti dia berharga. Lantas bahayanya apa sih korupsi? toh tak terasa juga.

Kalau gara-gara perbuatan si pencuri kambing, yang rugi ya si pemilik kambing. Yang terampas haknya ya cuma si pemilik kambing. Sekarang bayangkan kalau koruptor. Nominal kerugian bukan cuma dalam skala berjuta-juta bahkan sampai milyar, tak jarang trilyun. Hak siapa yang terampas? Rakyat. Nah ‘rakyat’ pun seringkali cukup diketahui tanpa dimaknai. ‘Rakyat’ itu betul kita, Anda dan termasuk saya. Dan jangan lupakan ‘rakyat’ itu termasuk 28,55 juta penduduk Indonesia yang berada di garis kemiskinan.

Mungkin memang tak terasa pencurian itu bagi Anda dikala masih bisa makan enak, bisa sekolah yang tinggi atau menyekolahkan anak di sekolah yang bagus, bisa mendapat pelayanan kesehatan di kala sakit, bisa ngopi-ngopi mahal, atau masih bisa plesir ke puncak atau ke luar negeri. Namun bagi rakyat miskin fatal akibatnya.

Ah miskin kan gara-gara mereka yang malas berusaha. Bisa jadi, tapi apalah artinya mati-matian berusaha bila tak ada lagi lahan usaha? Korupsi bisa melemahkan daya saing UKM kecil yang menyerap tenaga kerja lokal demi kepentingan korporat asing. Korupsi bisa memupus calon pemimpin-pemimpin besar negara ini dan calon atlit-atlit berprestasi masa depan karena mereka terpaksa putus sekolah. Bahkan korupsi bisa membunuh rakyat. Secara harfiah, membunuh – menghilangkan nyawa, akibat mereka yang tak mendapat pelayanan kesehatan yang layak dan tak dapat membeli obat-obat mahal karena korupsi.

Bila hukuman dari manusia kurang menjera, percayalah hukuman dari Tuhan masih ada dan akan mendera. Percuma Anda menyembah-Nya sehari 5 waktu, berlapar-lapar puasa, atau pergi jauh mengharap taubat ke Mekkah bila perbuatan keji yang terus dilakukan pada sesama akan mencegah Anda pergi ke surga.

Penyakit?

Di hari ini saya melihat sebuah akun twitter yang diretweet salah satu teman saya. Setelah ditelisik, akun tersebut memiliki follower sebanyak 1600an orang dan memiliki bio: anti sekulerisme-prluralisme-liberalisme. Awalnya ia membahas kasus JIS dan bereaksi keras terhadap pelakunya, saya setuju, saya pun bereaksi keras. Lama kelamaan kok tambah OOT bahasannya jadi membahas kalimat ahli psikologi/narasumber yang tentang penyimpangan seksual. Ia beranggapan homoseksual itu penyakit nista, dosa, dan menunggu untuk diazab.

Ini sudut pandang saya.

Apapun bentuknya entah itu kasus penyimpangan seksual atau bukan, saya sangat setuju bahwa kejahatan seksual haruslah ditindak keras. Bagaimana dengan penyimpangan orientasi seksualitu sendiri? Saya rasa penyimpangan orientasi seksual ialah statement yang bersifat privasi bagi tiap orang, terlepas dari ia mendeklarasikan diri atau tidak. Saya beranggapan statement tersebut sama saja dengan ideologi yang dianut seseorang, komunis misalnya. Misalnya di tahun 1965 saya tahu seseorang berpaham komunis, saya akan menghormatinya. Saya dan ia memang berbeda, tapi selama ia tidak mengusik saya atau orang lain, dan tidak membahayakan sekitar, saya akan menjaga rahasianya dan menghormatinya. Ia memang tidak sepaham dengan pancasila, ia mungkin akan berurusan dengan pihak berwajib, tapi ideologi yang ia punya seluruhnya ada dibawah kendalinya dan saya tak punya otoritas sedikitpun untuk mencampurinya.

Homoseksual adalah penyakit?

Bila betul penyakit, ia adalah kusta. Apakah ada orang yang menginginkan kusta? Sama seperti itu, coba pikir adakah orang yang memilih untuk menjadi homoseksual? Saya jamin 100% bila mereka bisa memilih, mereka akan memilih untuk hidup normal selayaknya orang kebanyakan. Bebannya terlalu berat. Jangan dulu berbicara mengenai stigma masyarakat atau rasa malu keluarga, bayangkan kemelut hati dan pikiran di sepanjang hidupnya. Anda pikir waria-waria yang mengamen di lampu merah untuk menyambung hidup itu, mau hidupnya begitu?

Jadi homoseksual adalah penyakit?

Bila betul ia adalah penyakit, seharusnya selalu ada obat dan selalu ada orang yang bisa menolong dan mendukung, bukannya malah melecehkan dan mengutuk.

Life is fair and has to be fair

Life is fair and has to be fair.

If you want to be heard, listen to the others.

If you want people to change, keep introspecting.

If you want people to treat you right, be kind.

Life is fair and has to be fair. 

Pluralisme

Tulisan ini dibuat atas kemuakan saya terhadap golongan yang ingin dimengerti tapi tak mau mengerti. Katakan saja sekelompok orang yang bekepercayaan sama seperti saya. Ini sudut pandang saya.

Fanatisme. Ini berbahaya. Mengapa? karena sudut pandang Anda menjadi sempit dalam menilai sebuah masalah. Karena Anda hanya bergaul dengan orang-orang satu pemikiran, satu konsep dengan Anda, dan kalian akan saling mengamplifikasi apa yang kalian yakini satu sama lain sehingga jika ada pemikiran lain yang bertentangan dengan apa yang kalian yakini, kalian akan tersinggung dan berkepentingan untuk membela habis-habisan apa yang selama ini kalian yakini. Coba tengok fanclub grup Korea bila idolanya dikritik, ngamuknya sama kan? Weits berani benar nyama-nyamain sama fanclub grup Korea. Maaf menurut saya dalam hal fanatisme, konsepnya sama saja.

Inilah pentingnya mencari referensi dan menjadi open minded. Kitab suci itu multitafsir. Carilah tafsir dan sudut pandang orang lain. Bukankah mencari ilmu diwajibkan? Kitab suci itu berisi kebaikan bukan? Lantas apa salahnya mencari ilmu yang baik-baik dari berbagai sumber? Jika Anda berpikir bahwa apa-apa yang berasal selain dari Arab itu adalah liberalisme yang menyesatkan dan buruk, maka buang semua gadget yang menemani hari-hari Anda, maka sebutlah dosen-dosen yang sebelumnya menuntul ilmu di negara-negara barat dan selama ini memberi Anda ilmu untuk Anda mencari nafkah adalah antek-antek zionis, mulailah hidup di hutan karena peradaban tak lepas dari jasa negara-negara barat, dari listrik sampai kopi yang Anda sruput tiap pagi. Anda tau Kartini? Yang secara tidak langsung oleh karenanya, Anda bisa mengenyam pendidikan atau saudara perempuan Anda atau ibu Anda atau bahkan nenek Anda, ia terinspirasi dari buku-buku feminis Belanda.

Tolak liberalisme! Yahudi bangsat! Tolak kerjasama dengan Amerika dan sekutunya! Jangan baca buku-bukunya, menyesatkan!

Gitu?

Coba kita dengarkan orang goblok pada sisi lainnya.

Tolak Islam! Orang-orangnya teroris! Berbahaya! Tidak toleran dan penuh kekerasan!

Sekarang gimana perasaan Anda?

Ada persamaan antara keduanya: menghakimi dan berpandangan sempit.

Mereka yang salah, gara-gara mereka negara-negara yang mayoritas beragama Islam hancur, bahkan Indonesia dijajah mereka!

Apa benar? Coba tengok pemerintah kita. Siapa yang tidak setuju kalau di tanah air yang tercinta ini pemerintahnya gila harta. Jadi yang menghancurkan negara kita ini sebenarnya siapa?

Saya percaya tak ada agama yang tak mengajarkan kebaikan jadi berbuatlah baik, perluas sudut pandang. Tak perlulah ikut campur tentang manusia dan apa yang dianggapnya sebagai Tuhan.

Tauladan

Seringkali hal yang menginspirasi itu malah datangnya dari yang lebih muda dan yang lebih nelangsa. Buat apa kamu menghamba di perusahaan ternama, bergelimang harta dan tahta kalau faktanya tak lebih berdaya dari mereka yang kau anggap sengsara dan hina tapi senantiasa berupaya memerdekakan jiwa-jiwa dan memberi makna di dalamnya.