Fiksi

Fiksi itu menakjubkan. Fiksi itu angan yang membuatmu bisa terbang, tak terlihat,  menjadi putri kerajaan, menyentuh salju, atau melihat kelip lampu di tengah temaram kota Paris.

Fiksi itu menakjubkan. Fiksi itu impian tentang berpacu di sirkuit dengan mesin menderu, mendengar lagu kebangsaan diputar dengan medali terkalung, bernyanyi di panggung megah, atau sekedar berada di ruang rapat berisi orang-orang penting.

Fiksi itu menakjubkan. Terkadang ia terasa hanya omong kosong. Terlihat seperti anak SD bercerita tentang cita-citanya  bahwa suatu hari nanti ia akan menjadi astronot lalu terbang ke bulan tapi kita terlampau tak tega untuk berkata “Nak, itu hanya rekayasa pemerintah Amerika dan Rusia saat perang dingin dan by the way kalaupun bukan rekayasa, ini Indonesia, negara ini terlalu miskin untuk itu. Atau mungkin saat kamu dewasa nanti kamu akan menyadari bahwa kamu tak cukup pandai untuk menjadi astronot. Kalaupun kamu adalah seorang jenius, kesempatan tak mungkin menghampirimu.”

Saya penyuka fiksi. Entahlah, tapi saya selalu merasa setelah membaca fiksi, saya seperti telah mengalami kehidupan lain, menyelami seluk-beluknya, mengalami konfliknya, dan mendapatkan maknanya.

Saya rasa hidup terlalu miskin dan teramat sepi bila selalu bercerita tentang kita sebagai peran utamanya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s