Curiosity

Curiosity

This is one of my favourites. I took this one almost one year ago when my students association held free treatment event in a remote area somewhere in West Bandung. Taken with analogue camera, Petri II 7s.

Keluar dari Kenyamanan

Yudisium sudah menyatakan bahwa saya resmi sarjana. Syarat wisuda pun sudah saya  penuhi. Sederhananya tinggal menunggu disalami Pak Rektor saja di dalam Sabuga. Itu pun kalau garis finishnya hanya wisuda. Tapi hidup kan berakhir ketika mati dan manusia sehat dengan usia 20an awal lazimnya mendefinisikan mati terjadi di umur 60 atau 70, artinya masih ada spare waktu yang cukup lama untuk diisi sampai mencapai garis finish.

Banyak pilihan untuk mengisi hidup setelah wisuda. Disini saya kerucutkan jadi dua saja: bekerja atau bersekolah lagi. Bekerja intinya menafkahi diri sendiri dan menjadi jauh lebih mandiri. Terbayang betapa puasnya menentukan tujuan dan menggapainya dengan keringat sendiri. Tapi bekerja pun bisa berarti berada pada rutinitas dan terjebak dengan sistem yang dibuat oleh orang sebelumnya. Belum lagi perlahan kita dipaksa menjadi tumpul dan tidak lagi menjadi unik.

Lantas kenapa tak bersekolah lagi saja? Apalagi di luar negeri. Lingkungan baru, teman baru, dan pengalaman baru bisa didapat. Pemikiran terus diasah, idealisme terus dipelihara. Lantas setelah lulus apa? Kembali bingung? Saya takut bila pilihan saya untuk bersekolah lagi hanyalah cara untuk memperpanjang zona nyaman saya. Di lain pihak, saya rasa saya tidak se-capable itu bila melanjutkan sekolah di bidang engineering. Entahlah, rasanya hanya menunda kebingungan bila saya bersekolah tanpa memikirkan dari sekarang setelahnya akan kemana.

So?

Saya belum tahu. Siapa sih yang lebih tahu dari Yang Maha Tahu? Ya sudah, selama saya masih percaya pada Yang Maha Mengatur. Saya serahkan semuanya dan saya ikhlas atas semua yang telah, sedang, dan apa apa saja yang akan terjadi pada saya. Di lain sisi saya merasa bersyukur memiliki orang tua yang tidak memaksakan kehendak, selalu suportif, dan sangat bisa diajak untuk bertukar pikiran.

Waktu tak akan menjawab dan menyelesaikan masalahmu tapi ia mampu menyediakan jeda serta ruang agar hati dan akalmu yang selama ini sibuk sendiri-sendiri dapat bertemu, berbincang, dan berkompromi.

I’ll let you know when I got the answer.

Waking Up

Mood when you’re waking up is something you can not predict. Sometimes you feel worn out and sometimes you feel good to go. Sometimes you remember every details in your dream and sometimes you don’t.

Lately I tried to start a new habit. Normally before I went to sleep, I checked every social media that I have but because my phone is broken, nothing much to be checked, so I began to do something else.

While  I was closing my eyes, I tried to memorised what I had been through in that day, whom people I had met, what had made me smile, laugh, or feel bitter, the promise I made, every fragmented memories I could recall. And as a finale, I said “Alhamdulillah”. Thanking for everything happened to me that day, air I breathed, loved ones I met, and every moments had been created in my life. I think by doing it, it could influence the mood when you’re waking up positively. Have a try!

Fiksi

Fiksi itu menakjubkan. Fiksi itu angan yang membuatmu bisa terbang, tak terlihat,  menjadi putri kerajaan, menyentuh salju, atau melihat kelip lampu di tengah temaram kota Paris.

Fiksi itu menakjubkan. Fiksi itu impian tentang berpacu di sirkuit dengan mesin menderu, mendengar lagu kebangsaan diputar dengan medali terkalung, bernyanyi di panggung megah, atau sekedar berada di ruang rapat berisi orang-orang penting.

Fiksi itu menakjubkan. Terkadang ia terasa hanya omong kosong. Terlihat seperti anak SD bercerita tentang cita-citanya  bahwa suatu hari nanti ia akan menjadi astronot lalu terbang ke bulan tapi kita terlampau tak tega untuk berkata “Nak, itu hanya rekayasa pemerintah Amerika dan Rusia saat perang dingin dan by the way kalaupun bukan rekayasa, ini Indonesia, negara ini terlalu miskin untuk itu. Atau mungkin saat kamu dewasa nanti kamu akan menyadari bahwa kamu tak cukup pandai untuk menjadi astronot. Kalaupun kamu adalah seorang jenius, kesempatan tak mungkin menghampirimu.”

Saya penyuka fiksi. Entahlah, tapi saya selalu merasa setelah membaca fiksi, saya seperti telah mengalami kehidupan lain, menyelami seluk-beluknya, mengalami konfliknya, dan mendapatkan maknanya.

Saya rasa hidup terlalu miskin dan teramat sepi bila selalu bercerita tentang kita sebagai peran utamanya.

Hello World

So hi wordpress and hi world!

Actually I want to write on a wordpress since a long time ago. I don’t know exactly why I start it just right now. I hope I can write constantly. Oh and I don’t intend to publicize this blog, so whoever who find this out, please keep it a secret okay. And I don’t know exactly why too.

Have a nice day by the way.